Deteksi Cepat, Pemkot Tangerang Gencarkan Tes GeNose di Pusat Keramaian

Tangerangexpose.com – KOTA TANGERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus melakukan antisipatif, dalam upaya pencegahan klaster baru, di bulan Ramadan. Salah satunya, melakukan tes GeNose, atau tes cepat melalui embusan napas secara masif diberbagai pusat keramaian. Sejauh ini, Pemkot Tangerang melalui Dinas Kesehatan telah menggelar tes GeNose di Terminal Poris Plawad, Stasiun Tangerang dan Pasar Lama.

Kepala Dinkes, dr Liza Puspadewi mengungkapkan tes GeNose akan digencarkan atau dilakukan secara masif hingga beberapa pekan kedepan. Secara acak, Dinkes akan menyasar tempat-tempat keramaian, seperti pusat perbelanjaan, pasar dan hingga pemukiman seperti RW zona merah.

“Tahap pertama lebih dari 200 peserta secara random kita ikuti tes GeNose. Seperti di terminal dan stasiun kita menyesar sopir bus, masinis hingga ratusan penumpang. Sedangkan di Pasar Lama kita menyasar pembeli atau pelancong dan para pedagang. Kita melihat itu menjadi pusat keramaian saat menjelang buka puasa,” ungkap dr Liza.

Lanjutnya, bagi peserta tes GeNose yang kedapatan positif covid-19, petugas akan langsung melakukan tindak lanjut. Membawa peserta positif ke Puskesmas terdekat, melakukan swab test PCR hingga dilakukannya isolasi mandiri di Rumah Isolasi Terkonfirmasi (RIT) yang tersedia.

Kata dr Liza, tes GeNose memiliki keakuratan hingga 90 persen, dan memiliki proses tes covid-19 yang cukup cepat. Hanya dengan kurang lebih tiga menit, peserta sudah bisa mengantongi hasil tes covid-19 nya. Dinkes pun menggelar tes GeNose secara gratis atau cuma-cuma untuk warga Kota Tangerang.

“Karena ini gratis, maka Dinkes berharap masyarakat yang diajak untuk tes GeNose dapat proaktif dan tidak panik. Tes GeNose bisa menjadi gerakan kerjasama kita semua, untuk mempercepat screening, dan pemutusan rantai penyebaran virus covid-19,” paparnya.

Sementara itu, hingga saat ini kasus penyebaran covid-19, masih belum menunjukkan perubahan, ke arah yang lebih baik di Indonesia. Meski kini, vaksin telah didistribusikan untuk sejumlah kelompok masyarakat.

“Dengan itu, saya pun meminta situasi saat ini sebaiknya tidak disikapi dengan gegabah. Terlebih di bulan Ramadan, dimana ajakan buka bersama (bukber) di restoran atau kafe bersama teman-teman, silih berganti. Ini memang kegiatan positif untuk silatuhrahmi, tapi tidak ditengah pandemi seperti saat ini. Efeknya bahaya secara berkepanjangan untuk banyak pihak,” tegasnya.

Ia pun menuturkan masyarakat Kota Tangerang jangan nekat untuk bukber di tengah pandemi. Masyarakat harus berhati-hati dengan budaya Indonesia yang satu ini. Pasalnya, bukber bisa menjadi faktor penyebab kenaikan kasus covid-19.

“Hari ini kita bukber memang tidak langsung positif hari itu juga. Tapi empat hari kemudian dan paling lama 14 hari kemudian, masa ingkubasi terjadi baru jumlah positif akan kian meningkat. Terburuk virus yang kita bawa, kita tularkan ke orangtua kita, atau lansia di rumah kita, mereka punya komorbit, dan terburuk hingga adanya kematian. Ingat, angka kematian tertinggi adalah lansia,” tegasnya.

dr Liza pun menegaskan, bersosialisasi dan makan di luar jauh lebih berbahaya daripada aktivitas lain. Seperti menggunakan transportasi umum atau berbelanja dalam hal penyebaran virus.

“Hal ini bisa dilihat, saat jumlah kerumunan melonjak pada musim liburan, disitulah jumlah kasus positif COVID-19 meningkat. Selama corona, ada tujuh momen libur bersama dan peningkatan kasus meningkat. Terbaru peningkatan momen libur hari paska,” katanya. /Adv

Bagikan berita ini ;

About Redaksi

Check Also

Resmikan Wisata Edukasi Lingkungan Hidup, Tihar Sopian: Semoga Masyarakat Lebih Aktif dan Terus Bergerak

Tangerangexpose.com – KOTA TANGERANG – Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *